Sabtu, 09 Agustus 2008

Sahabat Tak Tergantikan

Sahabat itu anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita. Dalam praktik, sering persahabatan itu bersifat sementara. Selagi kita butuh, kita pun mencari sahabat. Namun setelah merasa tidak membutuhkannya, kita membuangnya dan memusuhinya. Pepatah yang mengatakan “habis manis sepah dibuang”, sering berlaku dalam persahabatan antarmanusia. Padahal sahabat adalah alamat kita mencurahkan isi hati kita. Sahabat membantu kita saat kita tak berdaya dalam mengatasi permasalahan hidup kita. Kita berbagi beban pergumulan dengan sahabat kita dan rasanya tak pernah sahabat kita yang baik itu meminta imbalan. Ia juga menolong kita saat kita mengalami sakit dengan sikap siap berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan uangnya.
Sahabat ada di saat suka maupun duka. Menemani kita kapanpun di saat kita butuhkan. Bahkan, sering kali kita lebih mempercayakan sahabat kita untuk di ajak curhat dibandingkan dengan memberitahu orang tua. Sahabat benar-benar mendapatkan tempat yang special di hati kita. Tempat yang kita berikan kepada sahabat itu jelas lebih besar dibandingkan tempat yang kita berikan kepada orang lain. Sekalipun orang itu adalah pacar kita sendiri. Bahkan, sebenarnya untuk usia remaja memilki seorang pacar itu tidak begitu penting, karena kita punya sahabat yang begitu mengerti kita. Sahabat yang jauh lebih memahami kita. Sahabat yang siap menerima kita apa adanya. Seorang pacar belum tentu menerima kita apa adanya. Tidak jarang seorang pacar mendekati kita hanya untuk mendapatkan yang dia inginkan, tetapi saat kita membutuhkan dia, belum tentu dia mengerti kita. Berbeda dengan sahabat kita. Itulah sebabnya, sahabat tidak tergantikan.

Rabu, 06 Agustus 2008

Kesal pada orang tua

Seringkali kalau kita ingat-ingat, betapa kesalnya kita saat dilarang orang tua untuk melakukan sesuatu.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apa kita sudah sadar kalau tanpa orang tua, kita bukan apa-apa.

Saat sendiri di rumah, pasti kita merasa sepi ...

Rasanya sangat membutuhkan orang tua untuk menghilangkan rasa sepi itu...

Apalagi kalau kita harus tinggal jauh dari orang tua, rasanya menyedihkan...

Biarpun tidak tertutup kemungkinan kita meras senang dan bebas, tapi tetap saja rasa sepi itu pasti muncul.

Lalu sekarang, apa kita masih merasa kesal dengan orang tua?

Hati kecil kita yang menjawab...

Dan jawaban itu pasti "TIDAK"..

Alamku Tak Seperti Dulu

Banyak hal yang membuatku sedih
Tapi ada satu hal yang paling membuatku sedih
Membuat hatiku hancur
Dan tak terobati

Rusaknya....
Hancurnya....
Alamku....
Tempat tinggalku...

Kini telah berubah
Telah dirusak orang
Dan tak indah seperti yang dulu

Sampah berserakkan
Pepohonan ditebang
Hutan menjadi gundul
Kebakaran hutan dimana-mana

Semua ini salah siapa???
Aku???
Kamu???
Dia???
Siapa???

Semua ini salah kita..
Apa yang selanjutnya terjadi??
Aku harap bukan kerusakan yang berkelanjutan